Sejenak mengingat beberapa kenangan. Waktu memudarkan
lukaku dengan debunya, yang dengan perlahan membuatku tak lagi mengingatmu.
Tapi aku lupa satu hal, bahwa apapun bisa saja terjadi termasuk hal yang tak
pernah aku duga sekalipun. Kalau aku terus berusaha untuk melupakan, lalu kapan
aku akan belajar? Coba saja melihatnya dari sisi yang tidak menyakitkan.
Aku pikir benar kata seseorang, jeda dari seseorang
akan membuatmu satu, menyadari betapa kau kehilangan/mencintai mereka atau dua,
berapa banyak kedamaian yang telah kau miliki tanpa mereka. Manusia macam apa
aku ini yang tidak tahu tentang dirinya sendiri. Aku merasakan kehilangan
tetapi aku juga merasakan kedamaian tanpanya. Aku menemukan kedamaian itu dalam
suatu tempat bernama keluarga. Sebuah tempat yang tebuat dari cinta, kasih dan
sayang. Jika sudah masuk di dalamnya
hanya ada rasa aman, kedamain hati dan selalu diliputi oleh rasa syukur. Sebuah
kenikmatan luar biasa ketika punya banyak waktu bersama mereka. Melakukan banyak
hal, bercerita, dan tertawa.
Di setiap dekapan senja, selalu membuatku berharap akan
sebuah asa, kemudian melantunkan doa. Aku adalah kelompok orang yang sangat percaya
“Setiap hal terjadi untuk sebuah alasan”. Itulah kenapa aku selalu mencoba
menerima dengan lapang apapun yang terjadi dalam kehidupan, baik atau buruk.
Di setiap aku mengingatmu, semakin kau yakinkan bahwa
yang seharusnya aku kejar mati-matian bukanlah dirimu, tapi mimpi-mimpiku. Kau
mungkin tidak pernah tahu betapa terlukanya aku ketika harus kuhapus paksa
dirimu dari ingatanku.
Di setiap aku mengingatmu dan segala luka yang telah kau
torehkan, rasanya hanya ingin pergi yang jauh dan berharap tak akan lagi
mengingatmu, atau apapun tentangmu. Aku tak tahu apakah memang menjadi
kelemahan manusia dalam hal memaafkan, bahkan memaafkan dirinya sendiri.
Tapi, semakin besar rasa ingin pergi jauh-ku, semakin
pula aku menyadari satu hal. Hidupku bukan hanya tentangmu, melainkan segalanya hanyalah tentang keluarga.
Sampai kapan pun aku tidak mungkin bisa pergi jauh darinya.
Sekeras apapun aku melupakan, serapat apapun aku
menutupi, dan sejauh apapun aku menghindar, aku tidak akan pernah bisa.
Aku tetap harus pulang. Tapi bukan untukmu.
Klaten, Mei 2020